Note: Flying Crows Side Story
Rate: T
Summary: Karl Maier bukanlah seorang pemimpi. Ia lebih suka memikirkan cara agar semua yang ia inginkan menjadi realita. Dari prestasi akademis maupun non akademis, pergaulan, hingga cita-citanya. Ia tidak percaya akan mitos, legenda, apapun itu. Vampir, werewolf, hantu--
Karl Maier bukanlah seorang pemimpi. Ia lebih suka memikirkan cara agar semua yang ia inginkan menjadi realita. Dari prestasi akademis maupun non akademis, pergaulan, hingga cita-citanya. Ia tidak percaya akan mitos, legenda, apapun itu. Vampir, werewolf, hantu--
.
Elena tersenyum. "Kakak tidak percaya kalau aku 'ada'?"
Karl menggeleng pelan. Ingin rasanya ia membelai helaian pirang lembut itu, namun ia tahu ia tidak bisa. Tidak akan pernah bisa, meski Elena--adiknya tersayang, adiknya yang telah meninggalkan tubuh fana di usia belia--berada di hadapannya.
(Bocah berambut merah itu sudah menyatakan kecurigaannya; "Bagaimana bisa orang yang meninggal pada umur kurang dari 5 tahun muncul dalam wujud remaja?" Tetapi Karl tidak peduli--untuk itulah orang-orang memanggilnya si Hati Es, bukan?)
"Selena menangis."
Lagi-lagi, Karl tidak peduli. Yang ia inginkan hanyalah berada di samping adiknya; adik kandungnya. Ia ingin mengingat semuanya, mengabadikan kenangan ini dalam bentuk kristal memori yang tersimpan jauh di dalam hati. Ia menutup mata, menikmati hembusan angin musim semi yang menyapu pipinya lembut.
.
Dari kejauhan, tawa geli dan tangis pilu bercampur menjadi alunan melodi yang menyayat hati.
.
.
End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar